Jumat, 18 Juli 2008
AJAL YANG DITENTUKAN OLEH MANUSIA
Tgl 19 Juli 2008 jam 00......... 3 terpidana mati, 2 di surabaya 1 di serang menemui ajal didepan juru tembak, yang bak Malaikat pencabut nyawa, telah menentukan ajal manusia. Persoalannya bukan pada vonis dan Eksekusinya, melainkan pada tenggang waktu antara vonis dijatuhkan dengan waktu ekskusinya. Khusus untuk yang di Surabaya, yakni Ibu dan Anak, sengaja saya tidak menyebut namanya, antara Vonis yang di jatuhkan sampai waktu eksekusi, perlu waktu 20 th lebih. Apa yang menjadi alasan sehingga perlu waktu selama itu. Upaya hukum yang diberikan kepada terpidana semua telah dimanfaatkan, hasil final tidak merubah keputusan vonis tingkat pertama, berarti hukuman mati tetap berlaku. Bukankah upaya hukum juga ada aturannya, sehingga tidak menjadi berlarut2 sebegitu lama. Selama menanti eksekusi, sebagai manusia pada umumnya pasti berbuat baik dengan harapan suatu saat nanti akan ada keringan hukum. Dalam kasus kriminal hal demikian tidak mungkin terjadi. Berarti eksekusi hanya soal waktu. Kalau menunggu waktu sekian lama, sesungguhnya kedua terpidana mati di Surabaya itu menjalani dua hukuman, yakni hukuman Fisik selama 20 th lebih dan kemudian hukuman mati. Apakah hal demikian Bijaksana diterapkan dinegeri kita. Bukankah lebih baik segera dieksekusi setelah upaya ditempuh. Apakah masih mempertimbangkan adanya kasus seperti Sengkon dan Karta yang dihukum mati, ternyata setelah sekian tahun ada orang yang mengaku sebagai pelaku pembunuhan. Yang jelas apapun pertimbangannya kalau waktu tunggu eksekusi terlalu lama, menjadi tidak manusiawi, karena membiarkan orang yang sudah tahu kematiannya akan ditentukan oleh juru Tembak. Mudah2 para petinggi yang bijak, dalam menjalankan hukum, mulai penyidikan, penuntutan, pengadilan dan eksekusi dilaksanakan secara konsekuen dengan mempertimbangkan rasa kemanusiaan dan keadilan. Karena dengan demikian hukum diIndonesia akan lebih berwibawa dan bermartabat, bukan sebaliknya.
Rabu, 02 Juli 2008
Kamis, 26 Juni 2008
Segi Empat Emas.
Purworejo, Kutoarjo, Ketawang, Congot merupakan segi Empat Emas di Kabupaten Purworejo. Keempat tempat tersebut dihubungkan Jalan yang sudah mulus, yakni jln Kutoarjo-Ketawang-Congot-Pangen-Kotuarjo. Diwilayah ini merupakan lumbung pagi pagi Purworejo Selatan. Saat ini ada empat jalan membujur ketimur pada wilayah tersebut Yakni Kutoarjo-Pangen, Sangubanyu-Jenar, Grabak-Purwodadi dan Ketawang-Congot. Jalan membujur dari utara ke selatan baru ada dua yakni Pangen-Congot dan Ketawang-Kotoarjo. Jalan Ngombol-Ngangkruk-Rumah sakit lewat Banyuurip, Sebelah Barat lagi, jalan Wunut, Wingkomulyo, Demplo, Banyuurip. Kalau jaman dulu Jalan Wingko-Demplo bisa langsung ke Condong, saat ini sudah putus di Demplo. Kemudian kebarat lagi ada jalan dari Mijoyo seboro pemudian Tegal miring. Alangkah baiknya kalau jalan-jalan yang sudah itu dapat ditingkatkan lagi, Sehingga daerah daerah tersebut menjadi lebih mudah eksesnya. Pembangunan memjadi terasa merata bila jalan tersebut diperbaiki, supaya memudahkan anak2 yang akan sekolah. Ini sekedar usulan, mudah2 an didengarkan oleh yang berwenang di Kab Purworejo.
Jumat, 20 Juni 2008
Forum Purworejo, Blog Komunikasi Blogger Purworejo: Yang Mau Di Link
Saya agak heran, dijakarta masih banyak orang yang belum tahu kota purworejo, tak apa, mungkin orang tersebut memang kurang luas pengetahuannya. Sebagai orang berasal dari purworejo akan selalu mengenang purworejo.
Sabtu, 14 Juni 2008
Pulang Mudik.
Tiga bulan lagi kita mudik, saya ingin bagi informasi jalur mudik, jalur ini beberapa kali saya lalui dan ternyata lancar. Saya sering menyebut jalur tengah. Dari Jakarta, kita lewat tol dan keluar di tol sadang, terus menuju Subang, Kadipaten, kalau belok kiri menuju Cirebon, disini sering macet karena pertemuan dengan jalur Pantura. Saya biasanya dari Kadipaten belok kanan menuju Majalengka, terus kawali dan cikijing, dari situ ambil jurusan Ciamis terus belok kanan menuju cilacap. jalur ini tidak begitu ramai, kendaraan besar tidak banyak, motorpun tidak banyak, Bagi yang naik motor, jalur ini juga tidak begitu ramai. Tetapi pertengahan majalengka ciamis, jalan naik dan berkelok. Dibanding jalur pantura, jalur ini lebih jauh kira2 30 km, tetapi sepanjang pengalaman saya jalur ini bisa lebih cepat karena tidak macet. Setelah Ciamis, kendaraan mulai ramai dan motor dari Bandung mulai banyak. Di wangon kita ketemu pemudik yang lewat pantura. Dan seterusnya ketimur gabung dari berbagai jurusan. Ada tiga jalur yang sudah saya coba, termasuk melalui Bandung, alternative ini masih bisa dipilih. Sebaiknya kalau mau lewat jalur ini berangkat dari Jakarta malam menjelang pagi. Dijalur ini antara sabang sampai Subang lewat hutan karet, memang agak sepi. Kalau siang tidak terlalu panas. Selamat mencoba bagi yang bosan macet.
Jumat, 13 Juni 2008
Judul tanpa arah
Kata2nya singkat yaitu" DEMO", sering disamakan dengan unjuk rasa. Kalau demo masak, unjuk kepandaian memasak untuk menyajikan makanan yang unik dan enak. Kalau yang ramai dijalan unjuk rasa juga, tapi sering menjadi unjuk Raga. Saling lembar benda, siapa yang salah???. ya salah semua. Tujuan awal mulia, tapi caranya ya begitu. Persoalannya kalau belum ada korban sering dianggap sepele, baru setelah ada korban semua menjadi sibuk, seolah2 peduli dengan pengunjuk rasa. Sebetulnya, terlepas salah atau benar cara penyampaiannya, tetapi semakin banyak Demo berarti ada sesuatu yang tidak bisa dikomunikasikan dengan jelas. Pada jaman Pak Harto ALm, sering mengatakan supaya kita pandai membaca tanda2 jaman, kalau basa jawanya tanggap in sasmito. sayangnya ketika itu Pak Harto sendiri yang tidak bisa membaca tanda2 jaman, sampai akhirnya mundur karena didemo maha siswa, itu artinya dulu pendemo yang menaikan sekarang pendemo yang menurunkan, ya sudah balik modal. Itulah sekedar uangkapan yang tidak jelas mau kemana arahnya.
Senin, 09 Juni 2008
Keprihatinan
Hampir tiada hari tanpa demonstrasi, heran, dimana yang salah?. Ini suatu sebab akibat, seseorang mendemo, karena ada sesuatu yang dituntut. Kalau tuntutan tidak dipenuhi, timbul pemaksaan kemudian berujung pada kekerasan. Jadi demo yang bisa diartikan UJUK RASA berubah menjadi UJUK RAGA. Akhirnya timbul korban yang rugi kita semua. Sayangnya sudah didemo, sering tidak dihiraukan, kalau sudah jatuh korban, baru pada sibuk mencari siapa yang salah. Mbok coba sebelum ada korban, dengarkan tuntutan pendemo, pasti ada benarnya, walaupun sering juga ada salahnya. Yang penting bukan salah dan benar, mari coba mawas diri, kenapa orang cenderung ingin demo, tentu ada kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Seperti yang terakhir ini, BBM naik kemudian marak demo dimana. Memang kenyataan, begitu BBM naik, harga barang2 ikut naik. Jadi kalau alasannya unutk menghilangkan subsidi untuk orang kaya, ya batasi saja pengisian BBM oleh mobilnya orang kaya. Tetapi dengan menghapuskan BBM bersubsidi, kemudian ada BLT, padahal BLT sebulan seratus ribu, tidak nutup untuk kenaikan harga secara keseluruhan.
Yach mudah2 an ada perbaikan bagi semua.
Yach mudah2 an ada perbaikan bagi semua.
Selasa, 27 Mei 2008
profesi yang di abaikan.
Waktu saya masih kecil hidup dikampung, saya tidak punya gambaran tentang keadaan kampungku sendiri. Semenjak aku meninggalkan kampung halamanku, sedikit demi sedikit saya mulai tahu hal2 tentang kampung, misalnya tentang makanan khas. Belakangan ini saya mulai sadar, bahwa kehidupan dikampung itu ayem tentrem, sayangnya sekarang desa Wingko mulyo itu saat ini tadah hujan, jadi sawah dapat ditanami hanya kalau ada hujan, irigasi tidak berfungsi lagi. Sudah tidak ada yang peduli. Padahal jaman aku masih kecil air melimpah ikan ada dimana-mana. keadaan itu semua tinggal kenangan. Kalau saat ini lagi mudik tidak mudah lagi melihat ikan seperti dulu, Barang kali alam memang terus berubah seperti itu.
Langganan:
Postingan (Atom)