Jumat, 20 November 2009

44. MBAH SAKINAH

Dengan keluguannya Mbak Sakinah dari Banyumas mengakui seluruh perbuatannya dan divonis 1 bulan dan 15 hari, tetapi ybs tidak perlu mendekam dipenjara karena sebelumnya sudah diyahan selama 3 bulan.
Sangat jelas bahwa proses pengadilan semata hanya membuktikan tuduhan jaksa, bila tuduhan terbukti maka terdakwa berubah status menjadi terpidana. Prosesnya pengadilan sangat singkat, yakni hanya sehari langsung vonis.
Coba kalau kita berpikir jernih, Apa yang di ambil Mbak Sakinah hanya 3 butir kakao, yang rencananya mau ditanam, harganya cuma Rp 10,000.-.
Kalau dihitung biaya penahanan dan semua biayanya tidak sebanding dengan perkaranya.
Tapi apakah harus begitu, sementara kalau korupsi besar2an kok mudah berkelit seperti belut dan sulit ditangkap. Semua setuju sebagai negara hukum, semua berlaku sama didepan hukum, tapi itu teorinya, prakteknya tidak demikian. Beberapa kali ada kasus hukum dimana seseorang divonis bersalah, karena hakim yakin berdasarkan bukti2, si terdakwa dianggap bersalah kemudian di hukum. Beberapa saat kemudian ada fakta lain bahwa pelakunya orang lain, berarti keyakinan hakim keliru. Sudah ketahuan begitu untuk bisa bebas masih ada proses lagi. Hal ini membuat masyarakat kurang percaya dengan lembaga hukum.
Sebagai rakyat bahwa bila menghadapi hal tersebut hanya bisa berdoa dan pasrah. sebagaimana sikap Mbah Sakinah yang menerima apa adanya. Hal ini menambah carut marut penegakan hukum semakin ruwet. Hal ini akan bisa diselesaikan bila mana para penegak hukum tidak ada kepentingan dengan para pihak yang sedang tersangkut perkara.
Memang pengadilan didunia adalah pengadilan manusia, dan masih ada pengadilan yang maha adil yakni pengadilan Tuhan. Tetapi pihak yang merasa diperlakukan tidak adil akan merasa di zalimi didunia ini.
Semoga masih ada nurani yang mampu menyuarakan kebenaran, bukan atas dasar kukuasaan.
SEMOGA.

Sabtu, 07 November 2009

43. KEJUJURAN YANG LANGKA

Mungkin dalam sehari akhir2 ini, nama2 seperti Ari Muladi, Bibit, Chandra, Susno, Anggodo akan kita dengar berkali-kali. Mereka jadi bintangnya akhir2 ini. Rupanya kejujuran masih merupakan barang yang mahal. Semua ini karena hampir semua pihak yang terkait berlaku tidak jujur, sehingga menjadi ruwet. Semakin banyak Team yang dibentuk, semakin kabur kemana arah penyelesaiaan. Masyarakat banyak mendukung Bibit Chandra, sementara DPR mendukung Polri. Kalau sesama pendukung dihadapkan maka yang terjadi DPR berhadapan dengan rakyat. Yang perlu diingat bahwa anggota DPR dipilih oleh rakyat, anda2 ini baru saja bersumpah untuk menjalankan tugas secara jujur demi kepentingan rakyat. Kalau melihat keadaan saat ini sangat kontradiktif dengan keadaan sebelumnya, waktu akan maju sebagai caleg. Kini sudah lupa semuanya.
Saya tidak percaya bahwa dalam kasus ini ada pihak yang paling benar, menurut saya pihak2 yang terkait punya andil kesalahan sehingga keadaan menjadi kisruh. Dalam kasus ini ada yang dikatagorikan sebagai orang yang menyuap, yang disuap dan perantara penyuap. Yang perlu diingat bahwa sepandai-pandai membungkus, yang busuk berbau juga. Persoalannya sebetulnya sudah lama terjadi, tapi kenapa baru diungkap setelah Mantan ketua KPK menghadapi sidang.
Polisi mengatakan bahwa pihaknya mempunyai data, bahwa mobil2 pejabat yang dicurigai ada ditempat terjadinya transaksi penyuapan, dipihak lain mengatakan bahwa mereka tidak kenal orang yang menjadi perantara penyuapan. Memang pengakuan mudah diucapkan, tetapi siapa yang menjamin bahwa pengakuan itu jujur. Karena semua berpangkal pada kejujuran. Bila pejabat KPK betul2 jujur, berarti Pihak kepolisian tidak jujur. Kasusny ini akan segera selesai bila kejujuran mulai dikedepankan. Sosok Ari muladi apa betul2 jujur bahwa ada nama Yulianto, itu semua menunggu kejujuran. Dan selanjutnya ke pengadilan, tetapi yang perlu diingat pengadilan juga dijalankan oleh manusia. Sebagaimana diketahui bahwa dalam menjalankan tugas, pengadilan adalah bertanggung jawab kepada Tuhan, karena bila salah akan mencelakakan dan menyengsarakan orang yang tidak bersalah. Seperti kasus terakhir yang terjadi di jombang, dimana orang sudah divonis bersalah, ternyata belakangan diketahui bahwa korban yang diduga dibunuh oleh pelaku ternyata lain orang. Sudah begini, untuk membebaskannya bertele-tele. Hukum adalah untuk keadilan, betapapun sudah ditetapkan dalan hukum acara pidana tetapi kalau tidak menghasilkan keadilan berarti ada kesalahan dalam pengetrapan hukum tersebut. Semuga kejujuran segera datang.

Kamis, 01 Oktober 2009

MUDIK LEBARAN 2009

Mudik tahun ini aku termasuk sukses karena berhasil memecahkan recor, tetapi bukan karena cepatnya, tetapi karena lambatnya, 23 jam, biasanya kalau suasana lebaran 15 jam. Kendaraan makin banyak, jalannya itu2 saja, dan disiplin pemudik sangat kurang. Kemacetan semakin merata, kalau dulu yang macet umumnya cuma di daerah Jabar, sekarang sudah merembet ke Jateng.
Kemarin ini aku berangkan hari Jum'at jam 21, masuk tol bekasi barat lancar, aku sengaja tidak akan keluar Ciampek, makanya aku ambil ke arah Bandung. Waktu sampai arah Sadang aku lihat jalanan kosong,(biasanya aku keluar disini), tetapi yang ke Bandung juga lancar, maka aku terus ambil yang jurusan Bandung. Baru sekitar 5 km, jalan mulai tersendat, aku ambil kiri, maksudku mau keluar Purwakarta, makin lama kok makin macet, sedangkan yang ke Bandung kok pelan2 bergerak. Pas agak lowong dan bisa bergerak, aku ambil kanan, merayap sejenak kemudian lancar sekali. jam 23 aku nukar tiket, di Pada larang atau dimana aku lupa, kendara bergerak lancar, kira2 beberapa saat sebelum Cileunyi, kendaraan mulai merayap. Ditempat istirahat jam 24 aku berhenti, dengan harapan jalanan sudah lancar. Jam o1.00 aku jalan lagi, tapi sudah maikn parah. Pintu tl Ciluenyi terlewati juga dengan merayap. Setelah membayar agak lancar, aku pikir akan lancar seterusnya. Ternyata hanya kira2 2km kendaraan mulai merayap lagi. Waktu dipertigaan ke kanan, ada petunjuk "JALAN ALTERNATIVE KE TASIKMALAYA LUWAT CIJAPATI" aku tidak sempat belok kanan, maka aku maju terus. Kemudia aku baca, Nagrek macet total, tapi aku tidak bisa mutar jalan, aku maju terus. Didepan aku lihat ada orang berdiri di pinggir jalan, padahal waktu itu kira2 jam 03.00, setelah dekat orang itu memberi tanda2 untuk mutar, maka aku ambil kesempatan untuk mutar dan aku balik lagi arah Bandung. Begitu sampai putaran tadi, aku ambil kiri sesuai petunjuk polisi, lewat alternatif melalui Cijapati. Aku sempat solat subuh di pom bensin yang pertama aku lalui. Setelah selesai solat aku ikuti terus petunjuk jalan, lewat kampum jalan berkelok2. Beberapa saat sempat merayap juga. Akhirnya lancar, Garut pinggiran aku lewati, Singaparna lewat. akhirnya masuk Tasikmalaya kira2 jam 9 pagi, pikirku aku bisa sampai Wingko sekitar jam 15. hari Sabtu. Jalanan terus lancar Ciamis lancar, Banjar mulai tersendat. Perbatasan Jabar -Jateng aku lewati. Masuk Wanaraja semakin tersendat, dan puncaknya waktu Masuk Wangon, jalan yang seharusnya dari arah Jakarta 2 jalur dan dari arah Jogja 2 jalur, keempatnya diisi dari arah Jakarta. Tentu saja hampir 1 Jam tak bergerak. Aku di posisi jalur kedua, aku melihat disamping kananku, berarti jalur ketiga, sebetulnya sudah menyalahi aturan, tapi orang2 tidak merasa bersalah, malah berkali2 mencoba masuk di depanku.
Lama2 kemacetan berhasil dicairkan oleh petugas. Dasar kurang disiplin, jalur 3 dan empat tetap dilewati kendaraan dari Jakarta, maka beberapa kali kemacetan berulang. Wah susah, untungnya dalam keadaan puasa hari terakhir aku tetap sabar, biarlah aku kena macet, yang penting aku tidak menyebabkan oleh lain macet. Rencanaku mau buka di rumah Wingko gagal, akhirnya di Kebumen sambil jalan aku buka. Jam 20 aku sampai di rumah adikku di Mboro. Aku mampir dulu langsung tidur disana, baru Esok paginya aku ke Wingko untuk solat Idul Fitri. Alhamdulilah sampai juga kampung halaman dengan selamat, ketemu Simbokku yang sudah menanti2. Seminggu di Wingko, aku balik Jakarta, aku coba lawat jalan Daendeles, seperti kata mbah Suro, jalannya lancar sekali, cuma begitu sampai di Karang bolong -Ayah - dan logending, jalan mulai berkelok2 nanjak dan turun. Bukan main, jalannya curam sekali. Tapi ada kompensasinya, pemandangan laut, disebelah kiri, bagus sekali, beberapa kali aku berhenti, melihat laut dar jauh. Semula aku mau terus lrwat jalan alternatif sampai pangandaran, sampai2 di Banjar, tetapi tidak ketemu jalannya, padahal menurut peta sam Maos terus Jeruk Legi, aku ambil kanan ternyata sampainya jalan raya, sebelum wangon. Tapi semua lancar, masih belum selesai, setelah lewat Banjar, maju dikit ada jalan belok kanan lewat Cisaga dan Rancah terus Kawali. Jalannya belok2 tapi lancar sekali. Sampai Kawali belok kanan, terus Cikijing, ambil jurusan Majalengka, terus Kadipaten, Subang, Sadang, masuk Tol, sampai rumah di Bekasi jam 20.30 kira2 15 jam. Alhamdulilah lagi, sampai perantau dengan selamat.
Tahun depan begitu lagi.

Jumat, 07 Agustus 2009

43. KEJAHATAN DIJALAN

Aku sering melihat di TV mengenai kejahatan di jalan, di kendaraan umum ataupun di kereta. Kita sering dibuat sepertinya tidak berdaya, orang lain yang menyaksikan juga kadang2 hanya menyaksikan kemudian pergi, baru setelah kejadian orang berdatangan. Apakah betul kita tidak bisa mencegah, barang kali kalau sendirian memang tidak bisa, disamping mereka juga tidak sendirian, kita juga tidak tahu yang mana kawan mereka. Seperti misalnya kasus pencongkelan spion atau dop roda, dilakukan dengan cepat, biasanya di lampu merah dan menjelang hijau. Pada saat kejadian korban dibuat tak berkutik, sementara pengendara yang lain ingin segera melaju. Akhirnya si pencongkel aman2 saja.
Coba kita pikir, apa betul tidak bisa diatasi, menurut aku masih bisa, asalkan ada kesadaran masyarakat untuk saling membantu. Tetapi sebelumnya harus dijalin komunikasi, supaya ada kesepahaman, misalnya saja kalau ada yang melihat kejahatan segera membunyikan klakson, bagi yang mendengar segera ikut membunyikan klak son, dan tetap berhenti sebagai petanda telah terjadi kejahatan, dengan begitu pasti akan ada perhatian dari masyarakat lainnya. Disitulah kita bisa berbuat sesuatu. Kalau solideritas ini dapat terbentuk, maka untuk menangkal kejahatan tidaklah sulit. Tetapi kalau masih dihadapi sendiri, tentu orang belum tentu mau, karena kalau sudah nekat, penjahat itu mau melakukan apa saja. Hal ini lah yang perlu kita hindari.
AKu berharap melalui tulisan seperti ini akan menjadi awal kesadaran bersama, demi kepentingan bersama pula. Mulai dari situ keamanan akan tercipta, sebab kalau semua diserahkan kepada Polisi pasti tidak tertangani, karena jumlah polisi terbatas.

Kamis, 30 Juli 2009

42. GOTONG ROYONG YG MULAI PUDAR

Orang sering menyebut bangsa kita mempunya ciri khas Gotong Royong dan orang Barat punya ciri khas Individualistis susah mengatakan benar dan salah.

Dalam banyak hal khususnya di pedesaan jiwa gotong royong masih terasa kental, banyak pekerjaan yang dapat dikerjakan bersama tanpa berfikir bayar membayar. Umumnya orang di desa tidak terlalu terikat soal waktu, jadi model kerja gotong royong masih sangat mungkin dilaksanakan. Lain halnya kalau sudah mulai bergeser ke perkotaan, orangnya heterogin, kerjanya beda2, maka pengaturan waktu tidak bisa diberlakukan seperti kalau orang di desa dimana sebagaian besar hidup sebagai petani.

Manakala waktu luang antara orang yang satu dengan yang lain sudah berbeda gotong royong mulai bergeser, bukan karena sifat orangnya yang berubah tapi masalah waktu. Pada jaman dulu waktu saya di kampung, kalau ada orang meninggal dunia para pelayat akan menunggu sampai jenazah dibawa ke pemakaman dan pelayat sebagian besar ikut sampai peristirahatan terakhir.
Sekarang sudah berbeda jauh, memang pelayat menunggu sampai jenazah di berangkatkan ke pemakaman, tetapi begitu jemazah berangkat pelayat juga berangkat pulang, yang ikut ke pemakaman hanya sedikit.

Disisi lain, banyak hal yang sekarang mulai diukur dengan uang, artinya pekerjaan yang dulu bisa dilakukan secara gotong royong, sekarang hanya dikerjakan beberapa orang dengan bayaran. Tetapi hal ini tidak perlu disesali, keadaan memang terus berubah, satu hal yang harus terus dipertahankan adalah solideritas, kalau itupun sudah tidak ada, maka tumbuhlah masyarakat yang Individualitis, kemudian Egois. Mudah2 nilai luhur yang namanya gotong royong tidak mati begitu saja.

Rabu, 29 Juli 2009

41. NAMA PAHLAWAN

Banyak nama-nama Pahlawan dipakai sebagai nama jalan, ini maksudnya pasti untuk memberi penghormatan kepada yang punya nama. Pemakaiannya biasanya disesuaikan dengan tingkat kepahlawanannya. Sebagaimana diketahui dalam tingkatan kepahlawanan sering kita kenal istilah pahlawan Revolusi dan pahlawan nasional. Untuk pahlawan dari kalangan tentara yang pangkatnya sudah berbintang 4 sering dipakai untuk jalan2 protokol. Tetapi bukan berarti bahwa semua jalan protokol di Jakarta sudah diberi nama pahlawan. Mari kita ingat-ingat sejenak. Kalau kita di Harmoni, yang menuju ke Pasar baru namanya Jl. Juanda, yang menuju Kota, sebelah kiri Jl. Gajah mada, sebelah kanan Jl. Hayam Wuruk, Yang menuju Roxi, samping Duta Merlin namanya Jl. KH. Hasyim Ashari, yang menuju Tomang, namanya Jl. SUryo Pranoto, sedangkan yang menuju ke Air mancur namanya Jl. Maja pahit, kemudian di sambung dengan Jl. Medan Merdeka Barat, kemudian disambung lagi dengan Jl. MH. Thamrin, terus disambung lagi dengan Jl. Jen Sudirman.
Di Daerah Blok nama Jalan memakai nama Raja atau kerajaan.
Ada yang sangat aneh, mengingat jalan ini juga termasuk jalan protokol, yakni Jl. disekitar Senin. Yang menuju Ancol namanya jl. Gunung Sahari, yang menuju ke arah Rumah sakit Cipto, namanya Jl. Kramat, kemudian disambung dengan Jl. Salemba, terus berlanjut dengan Jl. Matraman, dan sambung lagi Jl. Raya Bekasi. Baru yang menuju Kampung Melayu setelah lewat terminal namanya Jl. Otista. Pertanyaannya kenama Jl. Gunung Sahari, Jl. Kramat, Jl. Matraman kok tidak memakai nama Pahlawan, apakah sudah kehabisan nama Pahlawan. Atau nama yang ada sekarang lebih berarti dari pada nama Pahlawan. Kenapa pula tidak diseragamkan, semua jalan protokol memakai nama Pahlawan besar, jadi masyarakat mudah membayangkan besar jalan, biasanya kalau memakai nama Pahlawan Revolusi berarti jalan protkol. Yach sekedar kasih pandangan.

Selasa, 28 Juli 2009

40. WAKTU

Waktu.............,
Waktu aku kecil, aku tak tahu makna waktu,
Waktu seolah2 hanya rutinitas dari pagi-siang-sore lalu pagi lagi,
Waktu sering lewat begit saja tanpa makna,

Tetapi,
Tanpa terasa waktu pula yang sudah memindahkan ku dari masa anak2 ke masa remaja,
Waktu masa remaja,
Waktu mulai punya arti, kapan aku mau melakukan aktivitas harus berkompromi dengan waktu,
Waktu pagi, siang dan malam sudah punya pembagian aktivitas,
Waktu aku remaja, perjalan waktu mulai lebih cepat, sesuatu yang tidak kuselesaikan sesuai dengan rencana, namanya lewat waktu,
Waktu remaja kalau boleh ditawar, maunya jalannya lebih pelan, karena pada masa2 itu sering dikatakan masa yang indah,

Kini,
Waktu pula yang membawa aku sampai usia setengah abad lebih,
Tidak terasa, kendaraan yang satu ini, kecepatannya tidak bisa diukur, bukan karena terlalu cepat atau terlalu lambat, tetapi terlalu konsisten,
Waktu terasa cepat sekali berlalu, apalagi kalau kita menengok kebelakang, jejak2 yang pernah kita lewati tidak terlihat lagi, hanya kenangan yang indah saja terus teringat dan tidak lekang dimakan waktu.

Pada waktu senang, waktu seolah2 di gas kencang sekali sehingga cepat berlalu, sehingga kenikmatan hanya sebentar,
Pada waktu sedih, waktu seolah2 direm habis2an, sehingga terasa seolah2 kesedihan terasa terlalu lama.

Akhir waktu pula yang dapat memisahkan kita, antara kita sesama, atau antara kita dengan kehidupan.

Maka pandai-pandailah memanage waktu.